Makkah -
Tiga jamaah calon haji terindikasi terkena virus H1N1 (flu babi),
salah satunya adalah jamaah dari Indonesia. Kepala Pusat Kesehatan Haji
Kementerian Kesehatan Wan Alkadri mengimbau jamaah Indonesia tidak perlu
khawatir. Ia berpesan agar jamaah menjaga kesehatan dengan cukup
istirahat, makan dan minum serta menjaga kebersihan.
Alkadri
mengungkapkan, jamaah yang terindikasi terkena H1N1 merupakan jamaah
yang
berangkat dari embarkasi Surabaya pada 26 Oktober 2010. Dijelaskan,
sekitar 200 ribu jamaah sudah memeriksakan diri selama di Tanah Suci.
Dari pemeriksaan itu, sebanyak 30 persen jamaah datang disertai dengan
batuk. Dari pemeriksaan ini ditemukan satu kasus pneumonia. Jamaah
mengalami gangguan paru-paru dan demam. Kemudian diketahui, yang
bersangkutan terkena H1N1.
"Jamaah itu berangkat dari embarkasi
Surabaya tanggal 26 Oktober, diketahui
terkena H1N1 pada 9 November,"
kata Alkadri di Makkah, Sabtu (13/11/2010).
Masa inkubasi virus
H1N1 hanya seminggu, sehingga dimungkinkan jamaah tersebut terinfeksi di
Tanah Suci. Pasien itu telah dirawat di rumah sakit Arab Saudi. Menurut
Alkadri, orang-orang yang pernah kontak langsung dengan jamaah yang
terduga kena H1N1a juga telah diperiksa, untuk dideteksi ada tidaknya
penularan.
Obat-obatan untuk H1N1 seperti tamiflu juga sudah
disediakan. "H1N1 tidak sebahaya H5N1. Probabilitasnya lebih rendah,
tidak perlu khawatir," ujar Alkadri.
Kasus H1N1 ini juga menimpa
dua jamaah dari luar negeri, yaitu dari Inggris dan India.
Jamaah
yang saat ini masih berada di Makkah akan bergeser ke Arafah untuk
melakukan wukuf atau berdiam diri, Minggu (14/11/2010) besok. Dari
Arafah, jamaah akan mabit atau bermalam di Muzdalifah dan dilanjutkan
melontar jumroh di Mina. Jamaah akan berada di Arafah, Muzdalifah dan
Mina (Armina) selama 3 hari 4 malam.
Alkadri mengimbau jamaah
menjaga kesehatan selama wukuf. Jamaah diharap tidak melakukan banyak
aktivitas yang tidak perlu. Sementara untuk mencegah penularan penyakit
selama di Armina, Alkadri, menyarankan agar jamaah mengenakan masker
lembab. Memakai masker lembab akan membantu jamaah.
"Masker
memiliki pori-pori dalam ukuran tertentu. Kalau lembab, partikel dari
udara akan mengumpal di masker, sehingga mencegah bakteri dan kuman
masuk," ujar Alkadri.
Menurut Alkadri ada 35 persen jamaah yang
berisiko tinggi karena usia tua dan sakit bawaan, seperti hipertensi dan
diabetes. Penyakit berat yang dialami jamaah Indonesia adalah penyakit
infeksi, kelainan jantung, hipertensi ekstrem, asma serangan
berulang-ulang, dan patah tulang. Yang umum dialami jamaah adalah demam,
batuk, dan gangguan pernapasan.
Alkadri berpesan agar jamaah
tidur cukup, jangan ditahan jika ingin buang air, makan sesuai waktu,
dan menjaga kebersihan. Karena kelembaban udara bervariasi, jamaah
disarankan setiap satu jam minum air satu gelas.
"Kelembaban
udara yang rendah membuat tubuh kita mengalami penguapan lebih cepat,
sehingga kita kurang cairan," ujar Alkadri.
Menurut Alkadri, tim
kesehatan telah menyiapkan ambulans bagi 30 pasien dalam posisi
berbaring untuk safari wukuf. Satu ambulans akan dikawal satu dokter dan
satu paramedis. Sampai Sabtu kemarin, tercatat ada 104 jamaah yang kan
disafariwukufkan. Selain 30 jamaah berbaring dalam safari wukuf, sisanya
akan disafariwukufkan dalam posisi duduk.
(iy/anw)