Sumber : Album Bandoeng Tempo Doeloe
dunia nyata lebih indah daripada dunia maya TAPI lebih indah lagi bercinta dengan luna maya di dunia nyata"he350x (rock`n roll) salam tiga jari...
Minggu, 27 Februari 2011
sejarah'a A7X
Avenged Sevenfold (juga dikenal sebagai A7X), adalah band beraliran metal core yang berasal dari Huntington Beach, California.
avenged-sevenfold
Terbentuknya Avenged Sevenfold
Avenged Sevenfold terbentuk pada tahun 1999 di Orange County, California. Album pertama mereka, Sounding the Seventh Trumpet direkam ketika mereka masih berumur 18 tahun. Album ini dirilis dengan label Good Life Recordings, tetapi setelah gitaris Synyster Gates masuk Avenged Sevenfold, album ini dirilis ulang dengan label Hopeless Records. Lagu “To End The Rapture” juga direkam ulang, kali ini ditambahkan dengan permainan gitar Synyster Gates.
City of Evil (2005-2007)
Tahun 2005, Amerika Serikat tengah jenuh dengan musik hip-hop dan pop yang merajalela, lalu Avenged Sevenfold merilis album mereka City of Evil tepatnya pada tanggal 8 Juni, 2005. Hits single Bat Country merupakan lagu metal/rock pertama yang merajai MTV TRL. Mereka mempopulerkan kembali solo gitar dengan duet gitaris Synyster Gates dan Zacky Vengeance yang benar-benar memanaskan area moshpit. Album tersebut mendapat sertifikat gold dan memenangkan predikat Best New Artist in a Video di MTV VMA 2006 untuk lagu Bat Country.
Avenged Sevenfold (2007-saat ini)
Tahun 2007, mereka kembali masuk studio untuk merekam lagu terbaru mereka untuk studio album ke-5 mereka. Awal Agustus 2007, mereka menjalani tur Asia Pasifik mereka, dan sempat mampir di Indonesia dan memainkan lagu mereka pertama kali di depan publik. Lagu yang berjudul Almost Easy tersebut mendapat sambutan hangat dari penggemar di seluruh dunia. Ketika itu band punk Jogjakarta Endang Soekamti didaulat menjadi band pembuka.
Tahun 2008 ini, mereka berpartisipasi sebagai headliners di tour Taste of Chaos bersama dengan Bullet for My Valentine, Atreyu, Blessthefall dan Idiot Pilot. Ketika tour, mereka merekam sebuah DVD yang mengandung 6 lagu baru mereka.
Tanggal 22 Oktober 2008, Avenged Sevenfold akan kembali manggung di Indonesia masih dengan event organizer yang sama yakni Java Musikindo dan kali ini band heavy metal Jibril didaulat menjadi band pembuka.
Anggota saat ini
* M. Shadows – vokal
* Synyster Gates – gitar melodi, piano, vokal
* Zacky Vengeance – gitar ritmik, vokal
* Johnny Christ – bass, vokal
* The Rev – drum, perkusi, vokal, piano
Ciri khas
Mereka cenderung memainkan nuansa agresif pada vokal, gitar, dan drum (bass tetap statis). Dengan sentuhan yang dinamis, mau keras atau lambat, mereka tetap menggunakan harmonisasi yang luar biasa dan komposisi yang teratur. Sebut saja lagu-lagu yang sedikit melow, seperti Seize The Day dan Dear God, gitarnya tetap di drop Dm seperti halnya metal-metal kebanyakan. Kemudian, ciri khasnya selain komposisi dan drop, Syn memasukkan nuansa sweep picking (arpeggio) di hampir semua lagunya. Keindahan sweep picking yang dipadukan dengan kromatik, slide, dan teknik-teknik lainnya bisa kita dengar di lagu The Wicked End. Kemudian selain itu, tidak lupa juga sentuhan akustik yang membawa suasana seperti di Hawaii, bisa kita dengar di lagu Sidewinder. Tapi, satu lagi ciri khas yang tidak pernah lepas dari mereka, menduetkan gitar Syn dan Zacky, memakai double bass dengan tempo yang beberapa kali lipat beat-nya dari biasanya.
Mantan Anggota
* Justin Sane – Bass
* Dameon Ash – Bass
* Matt Wendt – Bass
tambahan gan Sedikit info, lagu i won’t see you tonight part1 menceritakan tentang Justin Sane. M Shadows mengatakan bahwa ia sedang berjalan ke Justin Sane saat ia(Justin) mencoba bunuh diri dengan sirup obat batuk.Justin menderita bipolar disorder dan pergi ke rumah sakit jiwa untuk sementara waktu.Ketika ia kembali, band (terutama M. Shadows) khawatir tentang perilaku baru Justin. Dalam sebuah majalah “Take Action Tour” ketika ditanya tentang Justin, Shadows berkata: “Ia pergi ke rumah sakit jiwa selama beberapa bulan, dan ketika ia keluar, rasanya seperti dia on acid sepanjang waktu.Akhirnya, kami harus membiarkan dia pergi.Mungkin itu penyebab Justin Sane keluar dari A7X.
Sejarah Metalica baca yuuk ..
Metallica didirikan pertama kali di Los Angeles – Amerika Serikat dengan nama The Young of Metal Attack. Beberapa bulan kemudian grup ini berganti nama dengan Metallica yang konon merupakan gabungan kata Metal dan Vodca. Nama Metallica sendiri sebenarnya adalah nama yang diusulkan untuk sebuah majalah musik yang dicuri oleh Lars Ulrich sebelum majalah tersebut mendapat nama tersebut. Formasi pertama Metallica adalah Lars Ulrich (drum), James Hetfield (vokal dan gitar), Lloyd Grant (gitar) dan Ron Mc Govney (bass). Formasi inilah yang kemudian melahirkan lagu pertama berjudul Hit The Light, yang kemudian masuk album kompilasi rock Metal Massacre tahun 1981. Setelah Metal Massacre beredar, Grant dan Ron mengundurkan diri. Posisi Grant digantikan oleh Dave Mustaine dan posisi Ron digantikan Cliff Burton. Formasi ini kemudian pada Juli 1982 mengeluarkan demo-album No Life Till Leather. Demo inilah yang kemudian mengantarkan Metallica mendapatkan agen dan kemudian hijrah ke New York. Pada 1983, Metallica berencana akan melakukan tur pendek kebeberapa kota. Sayang Hetfield dan Mustaine malah terlibat perseteruan, hingga akhirnya Mustaine keluar dan kemudian mendirikan Megadeth. Posisi Mustaine digantikan oleh Kirk Hammett , gitaris dari grup Exodus. Formasi ketiga inilah yang kemudian mengeluarkan album Kill ‘Em All pada bulan Mei 1983. Pada tahun 1984, Metallica semakin besar dengan menerbitkan album Ride the Lightning. Album ini bertahan 50 minggu dalam Billboard Top 200. Demi memperlancar promosi mereka juga mengeluarkan mini album Jump In The Fire. September 1985, Metallica memproduksi album Master Of Puppets. Kembali Metallica masuk Billboard Top 40 selama 72 minggu. Album ini merupakan album yang meraih platinum tanpa single dan video. Tanggal 27 September 1986, dalam perjalanan tur ke Skandinavia – bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan Cliff Burton (bass) meninggal dunia. Peristiwa ini begitu memukul seluruh anggota band. Bahkan Dave Mustaine yang telah mendirikan Megadeth, mengenang kematian Cliff dalam lagu In My Darkest Hour (album Megadeth: So far.. So Good.. So What!). Oktober 1986, posisi Cliff Burton digantikan oleh Jason Newsted, basis dari grup Floatsam And Jetsam. Album …And Justice For All beredar September 1988. Disinilah Metallica mulai mengeluarkan video klip. Video pertama mereka adalah untuk lagu One, video ini mencapai nomor 1 di MTV. Keberhasilan ini kemudian mendorong produksi video klip Cliff ‘Em All sebuah video kenangan untuk Cliff Burton. Akhir 1990 album Metallica direkam. Album ini membuat Metallica mencapai penjualan quadruple platinum dan menjadi album nomor satu di delapan negara Amerika dan Eropa. Serta meraih penghargaan Grammy Award, kategori Penampil Metal Terbaik dua tahun berturut-turut. Basis jason Newsted mengundurkan diri dari band setelah bersitegang dengan James Hetfield. Perseteruan ini disebabkan Jason Newsted lebih menghabiskan waktu dengan proyek-nya sendiri. Anggota band yang lain menganggap Metallica harus diutamakan, meskipun pada saat itu Metallica sedang vakum. Grup ini pada saat ini beranggotakan Lars Ulrich (drums), James Hetfield (vokal dan gitar), Kirk Hammett (gitar) dan Rob Trujillo (bass). Mantan anggota lainnya termasuk Ron McGovney (bass), Dave Mustaine (gitar), Cliff Burton (bass) dan Jason Newsted (bass).
Sejarah Bioskop
Bioskop Megaria di Jakarta 
BIOSKOP MEGARIA adalah bioskop tertua dan merupakan satu-satunya bangunan besar bergaya arsitektur Art Deco di Jakarta yang masih bertahan.[1] Peninggalan arsitektur ini merupakan Cagar Budaya Kelas A,
mengingat usianya yang sudah lebih dari 50 tahun, berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993. Terletak di sudut Jalan Pegangsaan dan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, lokasi bioskop Megaria sangat strategis, karena merupakan pertemuan dari arah Bundaran Hotel Indonesia, Cikini, Matraman, dan Manggarai.
Bioskop yang awalnya bernama Metropole ini dibangun pada 11 Agustus 1949 dan selesai pada 1951.[2] Peresmian bioskop dihadiri oleh Rahmi Rachim, istri Wakil Presiden Mohammad Hatta; Sultan Hamengkubuwono IX (1912 – 1988), dan Haji Agus Salim (1884 – 1954),[3] dengan menampilkan film Annie Get Your Gun (George Sidney, 1950) sebagai pemutaran perdana.[4]
Banyak orang mengira bahwa bioskop ini dirancang oleh arsitek Belanda, Johannes Martinus (Han) Groenewegen. Namun sebenarnya, bioskop Metropole dirancang oleh Liauw Goan Seng (sebelum dikoreksi cucunya, Ifke M. Laquais pada 2007, Liauw Goan Seng disebut Lauw Goan Sing)[5] yang meninggalkan Indonesia pada 1958 untuk pindah ke Belanda ketika terjadi naturalisasi.[6] Oleh Liauw Goan Seng, bioskop Metropole dirancang dengan gaya arsitektur Art Deco—dari kata Art Decorative—sebagai bagian perkembangan arsitektur dunia Art Nouveau. Tidak seperti Art Nouveau yang ditandai dengan banyaknya ornamen dekoratif, seperti kaca mozaik, gambar, serta ukiran, unsur kerumitan pada Art Deco jauh berkurang dan menjadi lebih sederhana.[7]
Dengan menggunakan blower dan exhaust, bioskop berkapasitas 1446 penonton ini cukup nyaman pada masanya.[8] Ia pun tak sendirian di atas lahan seluas 11.623m² itu.[9] Seperti bioskop Capitol dan Menteng,[10] area bioskop Metropole dikelilingi oleh toko-toko dan tempat hiburan. Di lantai atas bioskop terdapat ruang dansa. Di samping kanan bioskop ada toko-toko tekstil.[11]
Selain kemegahan arsitektur, kesejukan ruangan, dan fasilitas lain dalam kompleksnya, faktor penting yang membuat bioskop Metropole menjadi salah satu bioskop kelas satu saat itu adalah karena bioskop ini memutar film-film populer Amerika. Dari War and Peace (King Vidor, 1956) sampai Gone with The Wind (Victor Fleming, 1939), maupun aksi si pirang Marilyn Monroe atau Robert Mitchum pernah dinikmati di gedung bioskop ini.[12]
Pada awal 1950-an itu, sebagai salah satu bioskop berkelas, bioskop Metropole juga tergabung dalam organisasi antarbioskop kelas satu. Salah satu organisasi yang paling terkenal adalah United Cinemas Combination, yang terdiri dari bioskop Menteng, Astoria, Capitol, Cinema Grand, Happy, Sin Thu, dan Globe. Bioskop Metropole sendiri, bersama Bioskop Cathay, Garden Hall, Mayestic, Orion, Roxy, dan Podium tergabung dalam Independent Cinemas.[13] Bioskop-bioskop kelas satu itu memutar film-film produksi Paramount, United Artists, J. Arthur Rank, maupun MGM (Metro Goldwyn Mayer).[14] Bioskop Metropole sendiri banyak memutar film-film produksi MGM.
Namun banyaknya film-film Amerika yang diputar di bioskop Metropole, tak mencegah bioskop ini berperan penting dalam perkembangan film Indonesia. Pada 1955, film Krisis (Usmar Ismail, 1955) diputar di bioskop Metropole. Pemutaran film ini merupakan salah satu fenomena dalam sejarah film Indonesia. Awalnya film Krisis, buah karya Usmar Ismail (1921 - 1971) yang kemudian dinobatkan sebagai Bapak Film Indonesia, hendak diputar di Capitol Theater.[15] Pada 1950-an itu, bahkan sampai 1970-an, memutar film Indonesia di bioskop kelas satu sangat sulit karena film Indonesia hanya diputar di bioskop-bioskop kelas C.[16] Keyakinan Usmar Ismail atas Krisis kemudian ditampik dengan hinaan oleh Weskin, manajer Capitol Theater hingga kabarnya, Usmar Ismail tak bisa menahan diri lalu memukulnya.[17] Film Krisis lalu disambut Lie Khik Hwie, manajer utama Bioskop Metropole, sekalipun perwakilan MGM di Indonesia keberatan. Lie Khik Hwie tak gentar, ia mengatakan bahwa MGM yang tak memiliki saham sesenpun tak berhak mengaturnya, dan mengancam akan merobek kontrak dengan MGM.[18] Pihak MGM lalu membiarkan film Krisis menggeser jadwal film-film distribusinya, dan ternyata film itu sukses besar. Memecahkan rekor penonton film Terang Boelan (Albert Balink, 1937),[19] Krisis menjadi film Indonesia pertama yang bisa sukses di bioskop kelas satu, hingga diputar selama lima minggu, melebihi film Barat.[20]
Terbukanya kesempatan bagi film Indonesia bisa diputar di Bioskop Metropole, pada akhirnya memang tak berimbas ke semua film Indonesia. Bioskop tetap memperhitungkan larisnya penjualan tiket. Namun Bioskop Metropole pada 1955, bersama sejumlah bioskop lain, sempat menjadi salah satu bioskop yang turut memutar film-film peserta Festival Film Indonesia I yang berlangsung pada 30 Maret – 5 April 1955, menjelang Pemilu pertama Indonesia.[21] Sementara pada 1970, bioskop Metropole, yang kala itu sudah berganti nama menjadi Megaria, juga menjadi salah satu bioskop penunjang pelaksanaan Festival Film Asia ke-16 pada April – Mei 1970, di mana Jakarta menjadi tuan rumah festival. Selain Bioskop Megaria, bioskop lain penunjang festival tersebut adalah Apollo, Star, City, Gelora, Menteng, Royal, Krekot, Satria, dan Orient.[22]
bioskop Metropole 21 dipecah menjadi enam studio. Empat studio menempati gedung depan dan dua studio di gedung belakang, yang masih satu gedung dengan Hero Supermarket. Bioskop Metropole 21 kemudian sempat berubah nama menjadi Megaria 21.

Bioskop Metropole, 1950-an. Foto: Sinematek Indonesia

Bioskop Megaria 21, 2002. Foto: TEMPO/Arif Ariadi.

Bioskop Megaria 21, 2007. Foto: Sinematek Indonesia.

Bioskop Metropole XXI, 2010. Foto: Ardi Yunanto.
BIOSKOP MEGARIA adalah bioskop tertua dan merupakan satu-satunya bangunan besar bergaya arsitektur Art Deco di Jakarta yang masih bertahan.[1] Peninggalan arsitektur ini merupakan Cagar Budaya Kelas A,
mengingat usianya yang sudah lebih dari 50 tahun, berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993. Terletak di sudut Jalan Pegangsaan dan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, lokasi bioskop Megaria sangat strategis, karena merupakan pertemuan dari arah Bundaran Hotel Indonesia, Cikini, Matraman, dan Manggarai.
Bioskop yang awalnya bernama Metropole ini dibangun pada 11 Agustus 1949 dan selesai pada 1951.[2] Peresmian bioskop dihadiri oleh Rahmi Rachim, istri Wakil Presiden Mohammad Hatta; Sultan Hamengkubuwono IX (1912 – 1988), dan Haji Agus Salim (1884 – 1954),[3] dengan menampilkan film Annie Get Your Gun (George Sidney, 1950) sebagai pemutaran perdana.[4]
Banyak orang mengira bahwa bioskop ini dirancang oleh arsitek Belanda, Johannes Martinus (Han) Groenewegen. Namun sebenarnya, bioskop Metropole dirancang oleh Liauw Goan Seng (sebelum dikoreksi cucunya, Ifke M. Laquais pada 2007, Liauw Goan Seng disebut Lauw Goan Sing)[5] yang meninggalkan Indonesia pada 1958 untuk pindah ke Belanda ketika terjadi naturalisasi.[6] Oleh Liauw Goan Seng, bioskop Metropole dirancang dengan gaya arsitektur Art Deco—dari kata Art Decorative—sebagai bagian perkembangan arsitektur dunia Art Nouveau. Tidak seperti Art Nouveau yang ditandai dengan banyaknya ornamen dekoratif, seperti kaca mozaik, gambar, serta ukiran, unsur kerumitan pada Art Deco jauh berkurang dan menjadi lebih sederhana.[7]
Dengan menggunakan blower dan exhaust, bioskop berkapasitas 1446 penonton ini cukup nyaman pada masanya.[8] Ia pun tak sendirian di atas lahan seluas 11.623m² itu.[9] Seperti bioskop Capitol dan Menteng,[10] area bioskop Metropole dikelilingi oleh toko-toko dan tempat hiburan. Di lantai atas bioskop terdapat ruang dansa. Di samping kanan bioskop ada toko-toko tekstil.[11]
Selain kemegahan arsitektur, kesejukan ruangan, dan fasilitas lain dalam kompleksnya, faktor penting yang membuat bioskop Metropole menjadi salah satu bioskop kelas satu saat itu adalah karena bioskop ini memutar film-film populer Amerika. Dari War and Peace (King Vidor, 1956) sampai Gone with The Wind (Victor Fleming, 1939), maupun aksi si pirang Marilyn Monroe atau Robert Mitchum pernah dinikmati di gedung bioskop ini.[12]
Pada awal 1950-an itu, sebagai salah satu bioskop berkelas, bioskop Metropole juga tergabung dalam organisasi antarbioskop kelas satu. Salah satu organisasi yang paling terkenal adalah United Cinemas Combination, yang terdiri dari bioskop Menteng, Astoria, Capitol, Cinema Grand, Happy, Sin Thu, dan Globe. Bioskop Metropole sendiri, bersama Bioskop Cathay, Garden Hall, Mayestic, Orion, Roxy, dan Podium tergabung dalam Independent Cinemas.[13] Bioskop-bioskop kelas satu itu memutar film-film produksi Paramount, United Artists, J. Arthur Rank, maupun MGM (Metro Goldwyn Mayer).[14] Bioskop Metropole sendiri banyak memutar film-film produksi MGM.
Namun banyaknya film-film Amerika yang diputar di bioskop Metropole, tak mencegah bioskop ini berperan penting dalam perkembangan film Indonesia. Pada 1955, film Krisis (Usmar Ismail, 1955) diputar di bioskop Metropole. Pemutaran film ini merupakan salah satu fenomena dalam sejarah film Indonesia. Awalnya film Krisis, buah karya Usmar Ismail (1921 - 1971) yang kemudian dinobatkan sebagai Bapak Film Indonesia, hendak diputar di Capitol Theater.[15] Pada 1950-an itu, bahkan sampai 1970-an, memutar film Indonesia di bioskop kelas satu sangat sulit karena film Indonesia hanya diputar di bioskop-bioskop kelas C.[16] Keyakinan Usmar Ismail atas Krisis kemudian ditampik dengan hinaan oleh Weskin, manajer Capitol Theater hingga kabarnya, Usmar Ismail tak bisa menahan diri lalu memukulnya.[17] Film Krisis lalu disambut Lie Khik Hwie, manajer utama Bioskop Metropole, sekalipun perwakilan MGM di Indonesia keberatan. Lie Khik Hwie tak gentar, ia mengatakan bahwa MGM yang tak memiliki saham sesenpun tak berhak mengaturnya, dan mengancam akan merobek kontrak dengan MGM.[18] Pihak MGM lalu membiarkan film Krisis menggeser jadwal film-film distribusinya, dan ternyata film itu sukses besar. Memecahkan rekor penonton film Terang Boelan (Albert Balink, 1937),[19] Krisis menjadi film Indonesia pertama yang bisa sukses di bioskop kelas satu, hingga diputar selama lima minggu, melebihi film Barat.[20]
Terbukanya kesempatan bagi film Indonesia bisa diputar di Bioskop Metropole, pada akhirnya memang tak berimbas ke semua film Indonesia. Bioskop tetap memperhitungkan larisnya penjualan tiket. Namun Bioskop Metropole pada 1955, bersama sejumlah bioskop lain, sempat menjadi salah satu bioskop yang turut memutar film-film peserta Festival Film Indonesia I yang berlangsung pada 30 Maret – 5 April 1955, menjelang Pemilu pertama Indonesia.[21] Sementara pada 1970, bioskop Metropole, yang kala itu sudah berganti nama menjadi Megaria, juga menjadi salah satu bioskop penunjang pelaksanaan Festival Film Asia ke-16 pada April – Mei 1970, di mana Jakarta menjadi tuan rumah festival. Selain Bioskop Megaria, bioskop lain penunjang festival tersebut adalah Apollo, Star, City, Gelora, Menteng, Royal, Krekot, Satria, dan Orient.[22]
bioskop Metropole 21 dipecah menjadi enam studio. Empat studio menempati gedung depan dan dua studio di gedung belakang, yang masih satu gedung dengan Hero Supermarket. Bioskop Metropole 21 kemudian sempat berubah nama menjadi Megaria 21.
Bioskop Metropole, 1950-an. Foto: Sinematek Indonesia
Bioskop Megaria 21, 2002. Foto: TEMPO/Arif Ariadi.
Bioskop Megaria 21, 2007. Foto: Sinematek Indonesia.
Bioskop Metropole XXI, 2010. Foto: Ardi Yunanto.
Sejarah Berciuman, Siapa Sih Yang Memulai?

Beberapa waktu silam, para peneliti menemukan bahwa kenikmatan berciuman adalah ketika bibir dan bibir bertemu, dan ada sebuah lonjakan elektrik yang terjadi, belakangan ini diketahui sebagai lonjakan hormon. Sebenarnya, siapa sih yang memulai aksi berciuman ini?
KapanLagi.com - Tak ada yang tahu pasti siapa manusia yang mengawali ciuman, dan tak ada yang mengklaim hal tersebut. Namun, yang jelas, berciuman ini sudah ada sejak berabad-abad lalu dengan cerita yang unik dan berbeda-beda.
Romawi Kuno
Di jaman Romawi kuno, ciuman tidak dilakukan dengan kekasih atau keluarga saja. Di jaman itu, ciuman merupakan sebuah kegiatan menyapa. Jadi, siapapun orang yang ditemui pada hari itu selalu disapa dengan sebuah ciuman, entah itu tukang sepatu yang ada di pasar, orang asing yang ditemui di jalan, atau orang yang tidak Anda suka sekalipun. Mungkin, pada jaman itu, berciuman bisa disamakan dengan berjabat tangan di jaman sekarang.
Jika dipikir lagi, iuewww... bagaimana mungkin berciuman dengan orang yang tidak dikenal? Well, itulah yang dilakukan jaman dahulu.
Mesir Kuno
Berbeda dengan cerita yang pernah diungkapkan film dan novel, dipercaya Cleopatra sang ratu penakluk hati pria, belum pernah mencium seorangpun. Dalam sejarah Mesir Kuno, seperti dikutip dari buku Seni Berciuman karangan Nick Fisher, berciuman belum dikenal oleh siapapun. Tak ada laporan sejarah yang mengatakan, bahwa berciuman itu pernah dilakukan.
Hmm... jadi, apakah ciuman Cleopatra di film itu hanya sekedar skenario belaka?
Italia
Pada jaman pertengahan, di Italia, disebutkan bahwa apabila ada seorang pria yang berani mencium seorang wanita di depan umum, maka pria itu bermaksud menikahinya. Bisa dibilang, inilah cara para pria pada jaman itu, untuk melamar seorang wanita.
So romantic, untuk itulah banyak orang berpikir bahwa pria Italia adalah pria bertipe romantis.
Naples, abad ke 16
Dahulu di Naples, berciuman merupakan kegiatan yang ilegal dan melanggar hukum. Apabila ada orang yang nekat melakukannya, maka mereka akan dikenakan sanksi hukuman mati.
Di Hartford, Connecticut
Adalah sebuah hal yang dilarang oleh hukum apabila seorang suami mencium istrinya di hari Minggu. Tak diketahui jelas alasan yang sebenarnya, mungkin masih dikaitkan dengan tradisi keagamaan, karena hari Minggu pada umumnya umat Kristiani beribadah.
Indiana
Nah, dari semua sejarah ciuman, mungkin inilah yang paling unik dan lucu. Di Indiana, ada sebuah hukum yang tidak memperbolehkan pria berkumis, mencium seorang wanita. Hal ini dihubungkan dengan masalah higienitas. Kumis dianggap membawa banyak bakteri dan kuman, tidak higienis.
Di Asia
Hingga saat ini, di Asia, ciuman masih dianggap tabu apabila dilakukan di depan umum. Ciuman terasa lebih afdol apabila dilakukan di tempat yang privat. Banyak orang yang menjadi bahan gunjingan, apabila berani berciuman di depan publik. Hal tersebut dianggap melanggar etika dan tidak sopan.
Siapapun yang mengawali berciuman ini, tentunya ia sangat tahu bagaimana manisnya sebuah ciuman. Dan kita patut berterima kasih kepadanya.
Sejarah SIngkat Korek api
Pada tahun 1800-an, baja, batu geretan, dan sabuk/kawulmsih digunakan untuk membuat api. Korek api pertama yang yang telah memakai fosfor dibuat pada tahun 1830-an. Korek api tersebut disimpan dan diamankan pada sebuah kotak spesial agar tidak terbakar karena korek api dapat terbakar pada permukaan apapun.
Pada 1844, Profesor Gustaf Erik Pasch mengganti fosfor kuning yang beracun dengan fosfor merah yang tidak beracun. Dia juga memisahkan ramuan bahan kimia untuk ujung korek api dan meletakkan fosfor pada permukaan untuk digesek pada kotak luarnya. Korek api yang aman telah tercipta. Ini adalah sebuah hasil penemuan yang berarti dan penting, yang membuat Swedia terkenal di dunia. Sayang sekali, produksinya sungguh sulit dan mahal.
Pada tahun 1864, insinyur yang lebih tua 28 tahun, Alexander Lagerman mendesign korek api mesin otomatis yang pertama. Pada waktu itu, produksi yang menggunakan tangan atau secara manual berganti menjadi produksi massa, korek api yang aman dari korek api JONKOPING (swedia) diekspor keseluruh dunia dan menjadi terkenal di dunia.
Pada 1868, perusahaan korek api Vulcan AB ditemukan di Tidaholm, swedia. Sekarang, perusahaan Tidaholm, dimiliki oleh Swedish Macth, yang dianggap jalur produksinya memiliki teknologi paling yang paling berkembang dalam korek api di dunia. Pemikiran tentang Lingkungan adalah bagian yang sangat penting dalam proses menghasilkan produksi dan bahan kimia sudah diganti, kotak korek api sudah terbuat dari kertas yang didaur ulang.
Ada juga beberapa pendapat lain mengenai Korek api yang mbah peroleh dari beberapa sumber...
Korek api adalah sebuah alat untuk menyalakan api secara terkendali. Korek api dijual bebas di toko-toko dalam bentuk paket sekotak korek api. Sebatang korek api terdiri dari batang kayu yang salah satu ujungnya ditutupi dengan suatu bahan yang umumnya fosfor yang akan menghasilkan nyala api karena gesekan ketika digesekkan terhadap satu permukaan khusus. Walaupun ada tipe korek api yang dapat dinyalakan pada sembarang permukaan kasar. Korek api yang menggunakan cairan seperti naphtha atau butana disebut korek api gas.
Bangsa Tiongkok sejak 577 telah mengembangkan korek api sederhana yang terbuat dari batang kayu yang mengadung belerang. Korek api modern pertama ditemukan tahun 1805 oleh K. Chancel, asisten Profesor L. J. Thénard di Paris. Kepala korek api merupakan campuran potasium klorat, belerang, gula dan karet. Korek api ini dinyalakan dengan menyelupkannya ke dalam botol asbes yang berisi asam sulfat. Korek api ini tergolong mahal pada saat itu dan penggunaannya berbahaya sehingga tidak mendapatkan popularitas.
Korek api yang dinyalakan dengan digesek pertama kali ditemukan oleh kimiawan Inggris John Walker tahun 1827. Penemuan tersebut diawali oleh Robert Boyle tahun 1680-an dengan campuran fosfor dan belerang, tetapi usahanya pada waktu itu belum mencapai hasil yang memuaskan. Walker menemukan campuran antimon (III) sulfida, potasium klorat, natural gum, dan pati dapat dinyalakan dengan menggesekkannya pada permukaan kasar.
Semoga tulisan singkat mbah tersebut bisa bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan buat teman-teman yang ingin mengetahui sejarah singkat tentang korek api.
Sejarah Nama DAerah di Jakarta...
Konon katanya…
Jalan Kebayoran itu dulu asalnya dari nama pohon, namanya pohon Belayur. Nah, buat lo yang ga tau pohon Belayur itu apaan, sok atuh sana kalo lagi ga ada kerjaan jangan main di mol mulu kerjaannya, skali-kali ke kebon raya bogor. Di sana masih ada tuh yang namanya pohon Belayur, rada sejenis pohon asem gitu, yang pasti sih… ni pohon GEDE banget.
Jadi ceritanya, jaman dulu di daerah yang sekarang namanya kebayoran ada satu puun Belayur yang gedeeeee abes, sangking gedenya kalo ada sepuluh orang ngerentangin tangan meluk pohon itu masih juga ga bisa kepeluk! Karena tu pohon gede banget, akhirnya jadilah tu pohon tempat berteduh buat orang-orang yang lewat, keujanan, atau pun kepanasan. Naaah… lo tau sendiri kan kalo ada banyak-banyak orang ngumpul di suatu tempat biasanya tu adaaaa aja tiba-tiba tukang jualan.
Jadi deh di pohon Belayur gede itu juga suka pada ngumpul tukang-tukang yang pada jualan, jadi tambah rame deh. Akhirnya daerah deket2 tu pohon jadi tempat ngumpul, atau sekedar tempat janjian ketemu. Biasanya orang-orang pada bilang… “wooii mau kemana?” “ooh… kagak ni… Cuma mau ke blayur an.” Sampe akhirnya jadi kebayoran deh.
Konon katanya…
Daerah sekitaran Tanah Abang itu tu dulu rawa-rawa. Nah, rawa-rawa di daerah situ tuh tanahnya bukan warna cokelat, malahan warnanya agak kemerah-merahan gitu. Nah, mungkin karena di daerah situ banyak orang Jawa-nya, sampe-sampe muncul deh nama Tanah Abang, soalnya dalam bahasa Jawa, Abang itu artinya merah…
Konon katanya…
Cawang tu dulunya tanah kepunyaan seorang kapten Melayu yang namanya Enci Awang, sekitar taun 1700an akhir. Kebagusan itu tanah punya seorang pangeran dari Banten yang namanya Tubagus, makanya disebut kebagusan deh… artinya tanah kepunyaannya si Bagus.
Konon katanya…
Bantargebang yang sekarang lo kenal jadi tempat pembuangan sampah, sebenernya arti namanya tu bagus banget. Jadi, Bantar itu berasal dari bahasa Sunda yang artinya pinggiran sungai, trus Gebang tu artinya pohon palem. Jadi kurang lebih, bantar gebang itu artinya daerah pinggiran sungai yang banyak pohon palemnya, wuih… indah betul nampaknya tinggal di situ, kaya lagi ngedeskripsiin daerah real estat aja. Hihihi… emang sih, katanya jaman dulu banyak pohon palem yang tumbuh di bantar gebang. Sapa yang nyangka kalo sekarang jadi tempat pembuangan sampah…
Konon katanya…
Daerah Warung Buncit itu dulu diambil dari nama seorang keturunan Cina bernama Bun Cit yang punya sebuah warung kelontong yang laku bener di daerah itu. Tapi, ada versi lain yang bilang kalo daerah warung buncit artinya emang daerah dagang yang waktu itu letaknya paling pojok alias buncit! Makanya dinamain deh warung buncit…
Konon katanya…
Jalan Pegangsaan tu dulu namanya Jalan Pedangsaan, asalnya karena dulu tu di tempat itu ada sebuah rumah dansa buat para tentara Belanda yang biasanya sih dateng ke rumah itu buat dansa-dansi sama cewek-cewek setempat. Tapi ada juga yang bilang kalo asal nama jalan Pegangsaan itu dari sebuah insiden menggegerkan yang sempat terjadi di daerah tersebut dulunya! Jadiii… katanya nih ada seorang yang lumayan terkenal di daerah itu yang namanya Saan.
Nah, si Saan ini rupanya punya dua isteri, tapi diem-diem gitu. Sampe akhirnya ketauanlah sama si isteri tuanya Saan kalo dia punya isteri muda. Rupanya kedua bininya itu ga terima karena ngerasa udah diboongin sama si Saan. Akhirnya, di sebuah siang nan dramatis, kedua bini si Saan itu ngamuk dan ngejar-ngejar Saan untuk dihajar. Saan pun ketakutan dan lari terbirit-birit.
Selama insiden kejar-mengejar itu kedua bini yang lagi murka berat itu berkali-kali teriak-teriak ke warga sekitar “Pegang Saan! Pegang Saan!” maksudnya supaya minta tolong warga buat nangkep si Saan supaya bisa digebukin gitu. Akhirnya jadilah nama jalan itu jalan Pegangsaan, soalnya orang inget terus sama insiden yang bikin heboh itu.
Hihihi… mau percaya atau nggak terserah lo juga sih… namanya juga konon katanya… hehehe…
Jalan Kebayoran itu dulu asalnya dari nama pohon, namanya pohon Belayur. Nah, buat lo yang ga tau pohon Belayur itu apaan, sok atuh sana kalo lagi ga ada kerjaan jangan main di mol mulu kerjaannya, skali-kali ke kebon raya bogor. Di sana masih ada tuh yang namanya pohon Belayur, rada sejenis pohon asem gitu, yang pasti sih… ni pohon GEDE banget.
Jadi ceritanya, jaman dulu di daerah yang sekarang namanya kebayoran ada satu puun Belayur yang gedeeeee abes, sangking gedenya kalo ada sepuluh orang ngerentangin tangan meluk pohon itu masih juga ga bisa kepeluk! Karena tu pohon gede banget, akhirnya jadilah tu pohon tempat berteduh buat orang-orang yang lewat, keujanan, atau pun kepanasan. Naaah… lo tau sendiri kan kalo ada banyak-banyak orang ngumpul di suatu tempat biasanya tu adaaaa aja tiba-tiba tukang jualan.
Jadi deh di pohon Belayur gede itu juga suka pada ngumpul tukang-tukang yang pada jualan, jadi tambah rame deh. Akhirnya daerah deket2 tu pohon jadi tempat ngumpul, atau sekedar tempat janjian ketemu. Biasanya orang-orang pada bilang… “wooii mau kemana?” “ooh… kagak ni… Cuma mau ke blayur an.” Sampe akhirnya jadi kebayoran deh.
Konon katanya…
Daerah sekitaran Tanah Abang itu tu dulu rawa-rawa. Nah, rawa-rawa di daerah situ tuh tanahnya bukan warna cokelat, malahan warnanya agak kemerah-merahan gitu. Nah, mungkin karena di daerah situ banyak orang Jawa-nya, sampe-sampe muncul deh nama Tanah Abang, soalnya dalam bahasa Jawa, Abang itu artinya merah…
Konon katanya…
Cawang tu dulunya tanah kepunyaan seorang kapten Melayu yang namanya Enci Awang, sekitar taun 1700an akhir. Kebagusan itu tanah punya seorang pangeran dari Banten yang namanya Tubagus, makanya disebut kebagusan deh… artinya tanah kepunyaannya si Bagus.
Konon katanya…
Bantargebang yang sekarang lo kenal jadi tempat pembuangan sampah, sebenernya arti namanya tu bagus banget. Jadi, Bantar itu berasal dari bahasa Sunda yang artinya pinggiran sungai, trus Gebang tu artinya pohon palem. Jadi kurang lebih, bantar gebang itu artinya daerah pinggiran sungai yang banyak pohon palemnya, wuih… indah betul nampaknya tinggal di situ, kaya lagi ngedeskripsiin daerah real estat aja. Hihihi… emang sih, katanya jaman dulu banyak pohon palem yang tumbuh di bantar gebang. Sapa yang nyangka kalo sekarang jadi tempat pembuangan sampah…
Konon katanya…
Daerah Warung Buncit itu dulu diambil dari nama seorang keturunan Cina bernama Bun Cit yang punya sebuah warung kelontong yang laku bener di daerah itu. Tapi, ada versi lain yang bilang kalo daerah warung buncit artinya emang daerah dagang yang waktu itu letaknya paling pojok alias buncit! Makanya dinamain deh warung buncit…
Konon katanya…
Jalan Pegangsaan tu dulu namanya Jalan Pedangsaan, asalnya karena dulu tu di tempat itu ada sebuah rumah dansa buat para tentara Belanda yang biasanya sih dateng ke rumah itu buat dansa-dansi sama cewek-cewek setempat. Tapi ada juga yang bilang kalo asal nama jalan Pegangsaan itu dari sebuah insiden menggegerkan yang sempat terjadi di daerah tersebut dulunya! Jadiii… katanya nih ada seorang yang lumayan terkenal di daerah itu yang namanya Saan.
Nah, si Saan ini rupanya punya dua isteri, tapi diem-diem gitu. Sampe akhirnya ketauanlah sama si isteri tuanya Saan kalo dia punya isteri muda. Rupanya kedua bininya itu ga terima karena ngerasa udah diboongin sama si Saan. Akhirnya, di sebuah siang nan dramatis, kedua bini si Saan itu ngamuk dan ngejar-ngejar Saan untuk dihajar. Saan pun ketakutan dan lari terbirit-birit.
Selama insiden kejar-mengejar itu kedua bini yang lagi murka berat itu berkali-kali teriak-teriak ke warga sekitar “Pegang Saan! Pegang Saan!” maksudnya supaya minta tolong warga buat nangkep si Saan supaya bisa digebukin gitu. Akhirnya jadilah nama jalan itu jalan Pegangsaan, soalnya orang inget terus sama insiden yang bikin heboh itu.
Hihihi… mau percaya atau nggak terserah lo juga sih… namanya juga konon katanya… hehehe…
Sejarah Penemuan Pembalut Wanita
Pembalut wanita adalah sebuah perangkat yang digunakan oleh wanita di
saat menstruasi,
ini berfungsi untuk menyerap darah dari vagina supaya tidak meleleh ke mana-mana.
Selain saat menstruasi, perangkat ini juga digunakan setelah pembedahan vagina,
setelah melahirkan, sesudah aborsi, maupun situasi lainnya yang membutuhkan pembalut ini
untuk menyerap setiap cairan yang berupa pendarahan pada vagina.
Butuh beberapa lama untuk produk baru itu dipergunakan secara luas oleh wanita.
Hal ini terutama disebabkan masalah harga. Pembalut wanita sekali pakai awalnya terbuat
dari wol, katun, atau sejenisnya, berbentuk persegi dan diberi lapisan penyerap. Lapisan
penyerapnya diperpanjang di depan dan belakang agar bisa dikaitkan pada sabuk khusus
yang dipakai di bawah pakaian dalam. Desain model begini merepotkan karena suka selip
ke depan atau belakang. Kemudian, desainer pembalut punya ide cerdas memberi perekat
pada bagian bawah pembalut untuk dilekatkan pada pakaian dalam.
Pada pertengahan 1980-an pembalut bersabuk lenyap dari pasaran digantikan
pembalut berperekat. Sejalan dengan perkembangan ergonomika, desain pembalut juga
ikut berkembang sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Dulu, pembalut tebalnya bisa
ampai dua sentimeter dan karena bahan penyerapnya kurang efektif, suka bocor.
Untuk mengatasinya, berbagai variasi diterapkan, misalnya menambahkan sayap,
mengurangi ketebalan dengan memakai bahan tertentu dan sebagainya.
Desain pembalut yang tadinya cuma persegi dibuat menjadi lebih berlekuk-liku,
jenis pembalut pun jadi beragam. Jenis-jenis pembalut sekali pakai mencakup panty liner,
ultra thin, regular, maxi, night, dan maternity. Beberapa pembalut bahkan diberi
deodoran untuk menyamarkan bau darah dan ada beberapa jenis panty liner yang dirancang
agar dapat dipakai bersama G-string.
Meskipun pembalut sekali pakai telah banyak digunakan, pembalut dari kain
(tentu saja dengan desain yang lebih baik, bukan sekadar potongan-potongan kain yang disumpalkan)
kembali muncul sekitar tahun 1970-an dan cukup populer pada tahun 1980-an sampai 1990-an.
Wanita memilih memakai kain dengan alasan kenyamanan, kesehatan, dampak lingkungan,
dan lebih murah karena memungkinkan untuk dicuci.
ini berfungsi untuk menyerap darah dari vagina supaya tidak meleleh ke mana-mana.
Selain saat menstruasi, perangkat ini juga digunakan setelah pembedahan vagina,
setelah melahirkan, sesudah aborsi, maupun situasi lainnya yang membutuhkan pembalut ini
untuk menyerap setiap cairan yang berupa pendarahan pada vagina.
Butuh beberapa lama untuk produk baru itu dipergunakan secara luas oleh wanita.
Hal ini terutama disebabkan masalah harga. Pembalut wanita sekali pakai awalnya terbuat
dari wol, katun, atau sejenisnya, berbentuk persegi dan diberi lapisan penyerap. Lapisan
penyerapnya diperpanjang di depan dan belakang agar bisa dikaitkan pada sabuk khusus
yang dipakai di bawah pakaian dalam. Desain model begini merepotkan karena suka selip
ke depan atau belakang. Kemudian, desainer pembalut punya ide cerdas memberi perekat
pada bagian bawah pembalut untuk dilekatkan pada pakaian dalam.
Pada pertengahan 1980-an pembalut bersabuk lenyap dari pasaran digantikan
pembalut berperekat. Sejalan dengan perkembangan ergonomika, desain pembalut juga
ikut berkembang sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Dulu, pembalut tebalnya bisa
ampai dua sentimeter dan karena bahan penyerapnya kurang efektif, suka bocor.
Untuk mengatasinya, berbagai variasi diterapkan, misalnya menambahkan sayap,
mengurangi ketebalan dengan memakai bahan tertentu dan sebagainya.
Desain pembalut yang tadinya cuma persegi dibuat menjadi lebih berlekuk-liku,
jenis pembalut pun jadi beragam. Jenis-jenis pembalut sekali pakai mencakup panty liner,
ultra thin, regular, maxi, night, dan maternity. Beberapa pembalut bahkan diberi
deodoran untuk menyamarkan bau darah dan ada beberapa jenis panty liner yang dirancang
agar dapat dipakai bersama G-string.
Meskipun pembalut sekali pakai telah banyak digunakan, pembalut dari kain
(tentu saja dengan desain yang lebih baik, bukan sekadar potongan-potongan kain yang disumpalkan)
kembali muncul sekitar tahun 1970-an dan cukup populer pada tahun 1980-an sampai 1990-an.
Wanita memilih memakai kain dengan alasan kenyamanan, kesehatan, dampak lingkungan,
dan lebih murah karena memungkinkan untuk dicuci.
Sejarah Komputer Dari Tahun 1938 - 2010 (Infographic)
Nih ... Infographic Tentang Sejarah Komputer Dari Tahun 1938 Sampe Tahun 2010...
Sejarah Maria Ozawa dipanggil Miyabi
Ringkasan ini tidak tersedia. Harap
klik di sini untuk melihat postingan.
Langganan:
Postingan (Atom)
